Jika kamu rendah hati, tak ada satupun yang dapat mengusikmu; baik itu pujian maupun makian, sebab kamu tahu siapa dirimu sebenarnya.

Thursday, January 2, 2014

Film "SOEKARNO"

Film yang satu ini sempat luput dari perhatianku. Namun secara tak terduga, datang kesempatanku untuk menonton...
Awal dari film ini sempat menggelitikku karena muncul ikon sebuah production house yang biasanya membuat sinetron-sinetron Indonesia di televisi. Jujur, aku bukan peminat salah satu dari sinetron yang mereka buat karena menurutku karakternya terlalu dibuat-buat, konfliknya terlalu dipanjang-panjangkan, dan aku juga tidak suka karakter-karakter anak sekolah dari sinetron-sinetron yang ada (rok mini, rambut di cat, berpakaian seragam semaunya sendiri, baju dikeluarkan, baju menerawang dan sangat ketat untuk semua pemainnya//tidak hanya untuk karakter anak sekolah tertentu/yang bandel). Jadi aku sempat kaget mereka mensponsori film macam "Soekarno" ini.

Ketika aku menonton film "Soekarno" ini, aku mengacungkan semua jempolku. Seharusnya kita punya film atau sinetron banyak yang seperti ini. Ini film yang sangat mendidik. Film yang sangat bertujuan positif. Film yang betul-betul dapat dipetik pelajarannya dari sebuah sejarah. Tahu apa alasanku mengatakan ini semua?

Aku pernah bekerja di sebuah perusahaan media terbesar di Indonesia. Dan, aku keluar karena banyak visi dan misi yang tidak sesuai dengan sudut pandang pendidikan menurut aku. Tapi, aku kan bukan yang punya perusahaan he..he.. jadi aku hanya bisa sumbang saran. Pada akhirnya, dari pada aku bekerja pada perusahaan yang memiliki sudut pandang "tontonan yang mendidik" yang berbeda denganku, aku memilih tidak berada di perusahaan tersebut lagi.

Lalu kenapa film "Soekarno" ini menurutku luar biasa untuk pendidikan kita?
Sedikit dari alasanku telah kukemukakan di paragraf pertama tulisanku ini. Selengkapnya adalah:

1. Film ini memiliki karakter pemain yang bisa dipetik pelajaran nyata
2. Film ini tidak memiliki dramatisasi yang berlebihan, tidak seperti sinetron-sinetron yang ada sekarang ini.
3. Film ini memiliki unsur sejarah yang pasti kita pernah pelajari di sekolah tetapi belum tentu kita jiwai keadaaannya. Lewat film ini, film ini mampu menggugah jiwa penonton untuk memahami pengorbanan pahlawan dan rasa nasionalisme kebangsaan.
4. Film ini mampu menyegarkan ingatan penontonnya mengenai sosok seorang pemimpin yang seharusnya. Pemimpin Indonesia, khususnya. Indonesia yang memiliki keragaman suku, agama, budaya, adat istiadat, dan ras. Pemimpin dalam film ini telah menunjukkan bahwa pemimpin dengan karakter Soekarno adalah pemimpin yang dibutuhkan Indonesia karena mampu menyatukan semua perbedaan itu dan memimpin rakyat dengan arif dan bijaksana.


  • Karakter Inggit. Ia merupakan sosok wanita yang tangguh, pembela monogami, dan memiliki prinsip. Ketika Soekarno mengajukan keinginan untuk menikahi Fatmawati, Inggit dengan nyata menolak. Cara ia marah pun, tidak seperti karakter-karakter yag ditampilkan di sinetron-sinetron Indonesia saat ini. Ia menunjukkan cara marah yang "anggun" walaupun ia melempar benda-benda kepada Soekarno sebagai pelampiasan kemarahannya. Ini adalah sebuah contoh kemarahan yang harusnya mampu menggugah semua penonton film "Soekarno". Marah adalah kejadian emosional seseorang. Namun, marah tidak perlu didramatisir. Apalagi dramatisir tersebut sampai ditiru oleh penonton. Sungguh, sinetron dapat memberikan dampak yang buruk dengan cara marah yang didramatisir.
  • Karakter Fatmawati. Ia memang "perebut suami orang". Di dunia ini tidak dapat kita pungkiri bahwa ada wanita-wanita seperti ini. Namun film ini jelas memberikan pendidikan karakter mengenai akibat "perebut suami orang" yakni ketika Riwu menatap foto Inggit selama lebih dari satu minggu. Fatmawati merasa dibanding-bandingkan, bahkan tanpa Riwu berkata-kata (hanya menatap foto Inggit). Ini pendidikan karakter tanpa dramatisasi. Pesannya sangat jelas dan langsung ke titik sasaran. Apa yang dialami Fatmawati tanpa perlu dibesar-besarkan, didramatisasi, tetapi emosi penonton telah masuk ke dalamnya.
  • Jiwa pemimpin betul-betul ditonjolkan di film ini, sekali lagi, tanpa perlu didramatisir (tanpa mata yang dibelalakkan berkali-kali, tanpa kamera yang di-zoom ke wajah berkali-kali untuk menunjukkan/mengekspos emosi aktor, dll). Percakapan antara Soekarno dan Hatta yang mengatakan bahwa semua yang mereka lakukan semata-mata demi kepentingan kemerdekaan Indonesia. Kegelisahan Hatta mengenai kemampuan mereka berdua untuk memimpin Indonesia secara adil. Artinya, mereka menampilkan sosok pemimpin yang tidak memikirkan diri mereka sendiri. Mereka menjadi pemimpin bukan karena mereka inginkan. Tapi mereka menjadi pemimpin karena mereka "dipilih" oleh rakyat, rakyat yang menginginkan mereka menjadi pemimpin. Rakyat mempercayai mereka dan mereka mengemban amanat rakyat sebaik-baiknya. Dan sangat jelas, Soekarno membawa diri sebagai pribadi yang sangat menginginkan keadilan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia adalah ketika ia merumuskan dan mengemukakan Pancasila sebagai dasar negara. Ia tidak perlu meyakinkan majelis sidang dengan menyogok, melobi, dan sejenisnya. Semua ia lakukan spontan di depan majelis sidang. Semua yang mendengarnya langsung mengangguk setuju, padahal awalnya sebelum Soekarno mengajukan Pancasila, beberapa orang lainnya yang maju telah menyebabkan keributan karena pro dan kontra. Namun, Pancasila yang dikemukakan Soekarno langsung disetujui semua pihak, karena apa yang ia kemukakan tidak mengandung kepentingannya seorang/kelompok, tetapi ia berusaha mencari dasar negara bagi semua rakyat Indonesia. Ia berusaha adil. Ia memikirkan kepentingan seluruh rakyat.


Semoga semakin banyak film-film seperti ini. Film-film yang memiliki unsur yang jelas untuk ditonjolkan tanpa perlu dibuat-buat menonjol.

Karena sesungguhnya,
apa yang berasal dari hati, selalu menyentuh hati.

MERDEKA!

Monday, September 23, 2013

Bintang Kecil, Bintang Besar

"Cinta seorang Ibu bagaikan mentari yang tak berpihak dalam menyinari. Tulus dan suci."

Ketika kita membaca ungkapan tersebut, mengingatkan kita akan apa ya?
Ya! Sebuah lirik lagu. Sebuah lirik lagu yang sangat sederhana namun sangat bermakna. Saya akan tuliskan syair lengkapnya untuk kita:
"Kasih Ibu kepada beta tak terkira sepanjang masa
hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia."

Lirik lagu tersebut sangat dalam maknanya dan mengingatkan sebuah tanggung jawab besar seorang ibu kepada anaknya; tanggung jawab dalam memberikan kasih tak terhingga selama-lamanya kepada sang anak. Kasih seorang ibu tentunya termasuk dalam memberikan pondasi yang kuat untuk kesuksesan di masa depan sang anak nantinya. Kesuksesan yang tidak hanya dalam sisi materi, tapi yang terpenting adalah karakter. Pengetahuan dan keterampilan hanyalah alat, yang menentukan sukses adalah tabiat. Keluarga adalah inti utama bagi pembangunan karakter anak. Tolak ukur kesuksesan kita dalam membentuk dan menanamkan karakter pada anak adalah saat tidak ada seorang pun di sekeliling sang anak dan saat tak ada seorang pun yang melihat sang anak, ia tetap akan melakukan hal yang benar. Dan, membangun karakter anak adalah tugas utama seorang ibu. Mengapa?

Keluarga adalah sistem terkecil dalam kehidupan. Perhatikan sekeliling kita, semua yang besar dan berkembang di dunia ini dimulai dari keluarga. Tidak ada yang tahu-tahu muncul di dunia ini menjadi seorang anak, dibutuhkan seorang ayah dan seorang ibu sehingga muncul seorang anak. Dalam masa-masa awal perkembangannya, anak akan banyak mencontoh dan meniru. Dan, hal pertama yang anak tahu adalah siapa orang yang memelihara dan merawatnya itulah orang yang dicontohnya. Orang terdekat yang di sekelilingnyalah yang dicontoh oleh seorang anak. Banyak penelitian menunjukkan bahwa lima (5) tahun pertama adalah periode emas bagi pertumbuhan seorang anak dan lima belas (15) tahun pertama adalah periode emas bagi penanaman karakter pada anak. Inilah waktu-waktu utama untuk keluarga "bekerja" membentuk seorang anak agar kelak menjadi seorang yang sukses. Dan mengapa ibu yang mengemban tanggung jawab dalam membangun karakter anak? Saya yakin pertanyaan Anda di paragraf sebelumnya belum terjawab pada paragraf ini. Mari kita lanjutkan membaca paragraf selanjutnya...

Secara naluri alamiah, ibu adalah orang yang terdekat dengan anak karena yang ia mengandung dan melahirkan sang anak tersebut. Hal tersebut menjadikan sebuah ikatan batin yang sangat kuat. Dalam suatu keadaan normal yakni sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak; dalam hal ini sang ibu tidak meninggal atau pergi meninggalkan rumah, hubungan anak dengan ibu akan memiliki pengaruh abadi terhadap perilaku kepribadian dan harga diri seorang anak. Pepatah, telah lama, dapat menjelaskan hubungan sebab akibat tersebut. Pasti kita pernah mendengar ungkapan, buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Jadi, singkatnya, ibu memiliki peranan penting dalam pertumbuhan anak dan pembentukan karakter anak.

Berikut saya akan bagikan beberapa tips membentuk "Generasi Sukses" yang saya dapatkan dari seminar-seminar maupun beberapa kelas pembinaan yang pernah saya ikuti:

1. Teladan dari ibu

Hal paling penting dan terutama dalam mendidik anak adalah memberinya teladan. Hal tersebut adalah hal paling efektif dan dapat langsung kita lihat dampaknya. Dan ingat, sikap yang buruk dari kita sebagai orang tua akan sangat mudah ditiru oleh anak dibandingkan sebuah teladan yang baik.

Teladan-teladan yang baik misalnya:
  • Dekat dengan Tuhan, mengajarinya bersyukur, dan memohon, serta berterima kasih kepada Tuhan.
  • Mengatakan segala sesuatu dengan lembut dan penuh kasih sayang; termasuk ketika kita memberitahunya bahwa dia telah melakukan sesuatu yang salah, sehingga anak juga belajar menghargai perbedaan dan tidak akan berteriak-teriak kepada kita ketika ada hal yang tidak disetujuinya. Di masa depan sang anak kelak, sabar, penguasaan diri, dan kerendahan hati adalah yang diperlukan dalam menyelesaikan setiap masalah.
  • Memberinya contoh untuk bertanggung jawab mulai dari hal-hal yang sederhana, misalnya dengan meletakkan baju kotor dan piring kotor di tempatnya, mengucapkan salam ketika masuk rumah, meletakkan tas pada tempatnya, dan sebagainya.
  • Jika ada sesuatu yang kita anggap tidak lazim dilakukan oleh sang anak, kita menanyakannya dahulu kepada sang anak dan mendengarkan maksud sang anak melakukan hal tersebut; tidak serta merta memarahinya. Hal ini akan mendidiknya menjadi seorang pendengar yang baik. 
  • Disiplin diri; yang merupakan kunci utama setiap kesuksesan!
Memang tidak mudah untuk selalu memberi sang anak teladan, mengingat kita; sebagai orang tua, adalah juga manusia biasa. Mengontrol emosi dan menjadi pendengar yang baik seringkali menjadi batu sandungan di tengah kesibukan dan penat kita melakukan pekerjaan kita sehari-hari. Namun, hal sederhana yang dapat kita lakukan adalah setiap kali kita akan melakukan hal yang buruk, selalu ingat bahwa anak kita akan mencontohnya, maka biasanya kita tidak akan jadi melakukannya. Namun jika kita sudah terlanjur melakukan hal yang buruk di depan anak kita, jelaskanlah pada sang anak bahwa hal yang baru saja kita lakukan itu salah, lalu minta maaflah padanya karena telah memperlihatkan hal yang buruk dan tidak patut dicontoh olehnya. Mungkin tidak akan mudah melakukan hal ini, namun percayalah hal ini akan sangat membekas di hati sang anak dan sekaligus mendidiknya memiliki sikap ksatria. Selanjutnya, berjanjilah pada diri sendiri bahwa kita tidak akan mengulanginya.


2. Pola asuh yang salah dari orang tua kita tidak diulang lagi di anak kita

Tidak dapat kita pungkiri bahwa orang tua tidak ada yang sempurna; begitupun orang tua kita yang dahulu telah mendidik kita. Saat ini setelah kita menjadi orang tua, kita mengetahui bahwa ada hal-hal yang salah dari cara-cara orang tua kita mendidik kita dahulu. Misalnya:
  • Ibu yang terlalu melindungi (over protectivesehingga kita tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri atau bahkan minder.
  • Ibu yang membanjiri dengan hadiah setiap kali melakukan sesuatu yang menyenangkan sang ibu sehingga kita tumbuh menjadi orang yang membutuhkan motivasi dari luar (hadiah/penghargaan/sesuatu lainnya) untuk melakukan sesuatu.
  • Ibu yang pemarah dan emosional sehingga kita tumbuh menjadi seorang anak yang emosional dan mudah marah.
  • Ibu yang terlalu sibuk dan tidak pernah ada di rumah sehingga tidak tahu perkembangan anaknya sehingga kita tumbuh tanpa kasih sayang ibu, menjadi anak yang kurang perhatian. Dampaknya, kita menjadi anak yang mencari perhatian di luar rumah; misalnya dengan mengenakan pakaian yang aneh-aneh, berbicara keras-keras agar menjadi pusat perhatian orang lain, nakal, dan hal-hal lainnya yang cenderung aneh dan tidak lazim dengan maksud untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.
  • Ibu yang sibuk sendiri; secara fisik sang ibu ada di rumah namun sibuk melakukan segala sesuatu yang tidak terlalu penting sehingga tidak menghiraukan permintaan-permintaan sang anak. Dengan pola asuh dari ibu semacam ini, kita akan tumbuh menjadi anak yang tidak memahami skala prioritas, cenderung mengabaikan kebutuhan orang lain, dan tidak peka terhadap lingkungan.
Mari kita refleksikan bersama adakah salah satu dari beberapa tipe ibu tersebut adalah tipe ibu kita dalam mendidik kita dahulu? 

Beberapa contoh umum pola asuh yang salah dari seorang ibu terhadap anaknya tersebut telah kita ketahui bahwa tidak patut kita tiru. Kita harus segera menyadarinya bahwa hal tersebut salah dan kita tidak "menurunkannya" dalam mendidik anak kita. Cukup sampai kita saja pola asuh yang salah tersebut diterima. Biarlah anak kita dan generasi selanjutnya menjadi generasi yang luar biasa!


3. Hubungan yang baik antara ibu dan ayah

Hubungan yang baik; terutama dalam hal komunikasi dan pengertian, antara ibu dan ayah adalah sangat penting bagi pertumbuhan karakter anak. Keluarga dengan ayah dan ibu yang demikian adalah sebuah keluarga yang sehat. Ciri utama keluarga yang sehat adalah:
  • Suami yang penuh kasih kepada istri: memperhatikan kebutuhan sang istri, tidak mengeluarkan kata-kata kasar, dan tidak bersikap kasar.
  • Istri yang menghormati suami: menempatkan suami sebagai "Kapten" dalam biduk rumah tangga, menjadikan suami sebagai panutan bagi anak-anak, mengingatkan suami bila ada hal-hal yang kurang baik dilakukan oleh suami sehingga tidak dicontoh oleh anak-anak.
Anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang sehat akan menjadi anak yang memiliki tenggang rasa, hormat pada orang lain, dan tidak emosional. Kita dapat melihat sekeliling kita bahwa anak yang emosional biasanya keluarganya bermasalah.



Hal-hal utama tersebut adalah sangat penting kita tanamkan pada anak-anak kita agar mereka menjadi bintang yang bercahaya dimanapun mereka berada. Karena, yang diperlukan untuk menjadi seorang juara adalah keinginan, dedikasi, tekad yang kuat, konsentrasi, dan kemauan untuk menang.


Maka, sangatlah penting bahwa seorang ibu haruslah berpendidikan baik dan setinggi mungkin. Sekolah tidak selalu merupakan jawaban. Namun, berpendidikan baik berarti mendidik diri sendiri untuk selalu bersikap baik dan berhati baik. Ibu adalah pilar keluarga. Ibu adalah pilar bangsa. Sebuah negara akan maju jika generasi-generasi selanjutnya memiliki pendidikan yang terbaik. Pernahkah Anda menyadari perbedaan seorang anak yang dididik oleh ibu yang memiliki pendidikan yang baik dengan ibu yang tidak? Kualitas anak-anak yang dihasilkan akan jauh lebih baik anak-anak yang dididik oleh ibu yang memiliki pendidikan yang baik. Ibu memegang peranan penting di dalam mendidik anak-anak. 


Tuhan telah memberikan seorang anak kepada kita, Tuhan telah menitipkannya, selanjutnya adalah tanggung jawab kita untuk tidak menyia-nyiakannya. Ingatlah berapa banyak pasangan yang menginginkan dengan sungguh untuk kehadiran seorang anak, namun belum kunjung mendapatkannya. Betapa beruntungnya pasangan yang telah memiliki kehadiran seorang anak dalam kehidupannya!





Sunday, June 9, 2013

1 Kapal 2 Kapten

Ketika Anda membaca judul saya ini, apa yang terbersit dalam benak Anda? Kapal sungguhan yang sedang mengarungi ombak di lautan yang ganas kah? . .  ;P

Hmm . . sebenarnya bukan tentang kapal sungguhan itu yang akan saya tuliskan disini . .
Judul ini saya ambil terinspirasi dari sebuah acara retret interdenominasi gereja mengenai kehidupan berumah tangga.

Dalam kehidupan berumah tangga, pernahkah Anda lihat sang suami yang begitu tunduk menghadapi kemarahan istrinya? Atau pernahkah Anda lihat sang suami dan istri yang sama-sama berteriak marah? Atau pernahkah Anda lihat keputusan sang suami tiba-tiba dimentahkan begitu saja oleh sang istri? Atau Anda sendiri mengalaminya? . .
Perumpamaan 1 Kapal 2 Kapten memang adalah perumpamaan yang paling tepat menggambarkan situasi tersebut. Di era saat ini, dimana para istri cenderung mandiri secara finansial, bukan hal yang luar biasa. Banyak keluarga yang saya temui mengalami ("mempraktekkan") hal tersebut.

Kapal idealnya adalah dijalankan oleh 1 nahkoda. Kapal rumah tangga dinahkodai oleh suami, itu yang secara prinsip seharusnya dipahami.
Kolose 3:18-19
(18) Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.
(19) Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.

Dua ayat ini merupakan pegangan utama dalam hidup berumah tangga agar tidak terjadi 1 Kapal 2 Kapten. Dua ayat ini tidak dapat hanya dijalankan salah satu, namun harus keduanya. Tidak juga dijalankan dengan saling menuntut, dalam arti suami membenarkan sikap kasarnya terhadap istri karena istri tidak tunduk; ataupun sebaliknya, istri membenarkan sikapnya yang tidak tunduk karena suami tidak memiliki kasih terhadap istrinya. Kedua ayat ini berjalan bersamaan, beriringan, meskipun kadang kala ada kealpaan salah satu mempraktekkannya, namun harus saling mengingatkan (dengan penuh kasih tentunya) untuk kembali lagi mempraktekkan kedua ayat ini.

Kata-kata "tunduklah kepada suamimu sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan" memiliki makna yang berarti di dalam segala hal seorang istri harus tunduk kepada suaminya, karena terdapat kata-kata "sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan".

Kata-kata "kasihilah isterimu" tersebut memiliki makna yang sangat mendalam, seperti kasih yang diajarkan Tuhan Yesus kepada kita:
                      Kasih itu sabar
                      Kasih itu murah hati
                      Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong
                      Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri
                      Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain
                      Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tapi karena kebenaran
                      Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengaharapkan segala sesuatu, 
                      dan sabar menanggung segala sesuatu.

Sedikit sharing pengalaman saya atas beberapa jenis keluarga 1 Kapal 2 Kapten yang sangat umum ditemui:

Kasus 1
Suami yang tidak tidak cukup menyokong keluarga secara finansial, dan istri bekerja untuk membantu kebutuhan finansial keluarga. Sang istri memutuskan semua hal tanpa bertanya dulu kepada suami mengenai pendapat dan keinginan suami.

Kasus 2
Suami yang memiliki kemampuan finansial yang sudah cukup untuk keluarga, istri juga bekerja namun dengan penghasilan yang lebih tinggi. Sang istri memutuskan semua hal yang menyangkut keluarga. Sang istri menganggap memiliki kontribusi lebih dalam keluarga sehingga tidak mempedulikan kewenangan suami sebagai pengambil keputusan.

Kasus 3
Suami orang yang plin-plan, bukan seorang pengambil keputusan yang cepat dan tepat. Istri terbiasa hidup cepat dan tipe seorang pengambil keputusan yang tepat. Istri langsung melakukan pengambilan keputusan untuk semua hal dalam keluarga.

Kasus 4
Suami orang yang kasar, semaunya sendiri, dan tidak bertanggung jawab. Istri mengambil alih seluruh kewenangan suami, termasuk keputusan-keputusan rumah tangga.


Menurut Anda, apakah istri yang bersikap demikian adalah benar?

Kasus 1
Kasus nomor 1 lebih pada kondisi jiwa istri yang kecewa terhadap suaminya. Ia melampiaskan dengan cara tersebut. Tentu saja hal ini tidak benar. Bagaimanapun suami adalah kepala rumah tangga. Rejeki sudah diatur Tuhan. Jika pada kenyataannya penghasilan suami tidak mencukupi dan istri harus ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, lakukanlah dengan ikhlas, untuk kepentingan rumah tangga. Jangan menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk mengambil alih kewenangan suami sebagai pemimpin rumah tangga.

Kasus 2
Kasus nomor 2 lebih pada jiwa kesombongan seorang istri. Tentu saja hal ini tidak benar. Bagaimanapun suami adalah kepala keluarga. Jika penghasilan yang dimiliki istri lebih tinggi dari suami, semata itu adalah anugerah Tuhan. Justru karena anugerah Tuhan itu yang membuat keluarga tersebut seharusnya tetap berpegang pada firman Tuhan. Firman Tuhan ... yang salah satunya meminta agar istri tunduk pada suami.

Kasus 3
Suami yang tidak bisa mengambil keputusan adalah alasan pembenaran dari sikap istri yang tidak mau tunduk terhadap suami. Dan kita tahu, itu tetap saja hal yang salah. Jika sang istri adalah pengambil keputusan yang baik, bantulah suami agar dapat bertumbuh menjadi pengambil keputusan yang baik. Bukan dengan cara yang instan yaitu istri yang langsung mengambil keputusan.
Pertama, hal tersebut tidak sejalan firman Tuhan.
Kedua, hal tersebut menyakiti hati suami.
Ketiga, hal tersebut tidak membuat suami bertumbuh.
Keempat, hal tersebut akan menimbulkan kekecewaan-kekecewaan lain dalam keluarga tersebut.

Kasus 4
Untuk kasus 4, secara hukum manusia, hal tersebut dianggap sebagai pembenaran. Tapi tidakkah kita tetap harus mengikuti aturan Tuhan? Tuhan meminta istri untuk tunduk pada suaminya. Tuhan tidak pernah menyebutkan bahwa istri hanya tunduk pada suami yang baik saja. Sikap yang seharusnya dilakukan istri pada Kasus 4 adalah tetap menjadi istri yang tunduk pada suami, lalu berdoa dan berharap pada Tuhan agar sang suami memiliki kasih.
              Yesaya 40:31             
              Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru,
              mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya,
              mereka berlari dan tidak menjadi lesu,
              mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.
             

Dalam hidup berumah tangga, sudah menjadi rahasia umum bahwa perbedaan pendapat sangat mungkin terjadi. Justru hal tersebut merupakan hal yang sehat dalam hidup berumah tangga. Perbedaan pendapat juga sangat mungkin berujung pertengkaran. Setidaknya hal ini yang dapat saya bagikan untuk suami-istri yang sedang berselisih:

1. Setelah menikah, tutuplah mata rapat-rapat. Bukan berarti pendamping kita adalah orang yang sempurna, namun Tuhan telah memilihkan orang yang terbaik menjadi pendamping hidup kita.

2. Tidak marah disaat yang bersamaan. Jika yang satu sedang marah, yang lain diam dan dengarkan dahulu.
Marah adalah reaksi normal dan wajar sebagai manusia. Marah merupakan bagian dari jiwa; keberadaan emosi di dalam jiwa. Marah tentu saja berbeda dengan marah-marah. Marah sangatlah manusiawi, tapi marah-marah adalah menunjukkan ketidakmampuan seseorang mengontrol emosinya.

3. Jika sedang bertengkar, jangan pernah melampiaskan amarah dengan pergi meninggalkan rumah. Percayalah, hal itu kelihatannya menenangkan, namun sesungguhkan akan membawa masalah baru di masa depan.

(Eyang Warno)


Kolose 3:13
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.