Hi all . . . lama kita tak bertemu.
Sampai saat ini kita bertemu lagi, pernahkah suatu saat Anda merasa hal yang Anda lakukan adalah sia-sia?
No . . no . . tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Percayalah! Kenapa?
Pertama, kita hidup di tatanan dunia yang sangat kompleks yang sudah diatur oleh Tuhan.
Tuhan sudah merencanakan semua hal yang terjadi dalam hidup kita sejak saat pertama kita berada dalam kandungan ibu kita. Karena rencana Tuhan itulah, semua hal yang Anda lakukan dan Anda lewati itu dapat terjadi.
Kedua, karena setiap rencana Tuhan itu membawa setiap manusia pada garis hidupnya dan garis hidup orang-orang di sekelilingnya. Yang pasti berdampak baik. Karena rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan.
"Sebab dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia." (1Kor 15:58)
Setiap kita melakukan suatu perbuatan baik, perbuatan dengan niat baik, perbuatan dengan niat untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan; apapun itu jenis kegiatannya,
misal: memasak untuk suami, bekerja di kantor, mengerjakan PR, dan sebagainya
jika kita melakukannya dengan niat baik (bersekutu dengan Tuhan), percayalah itu tidak akan ada yang sia-sia. Pasti akan membawa dampak yang baik, setidaknya bagi Anda . . . bahkan untuk orang lain.
Sebuah contoh konkrit . . .
Misal, ketika seorang anak yang masih sekolah mendapat tugas untuk mengerjakan PR dan gurunya berkata besok PR itu dikumpulkan.
Anak ini mengerjakan PR dengan sungguh-sungguh.
Ketika esok hari, ternyata guru mata pelajaran itu tidak masuk karena sakit dan mata pelajaran tersebut digantikan oleh guru mata pelajaran lain supaya tidak ada jam pelajaran yang kosong.
Jika anak yang mengerjakan PR tersebut tidak mengerjakan dengan niat yang baik (misal, sambil takut karena PR tersebut harus dikumpulkan, terpaksa mengerjakan karena disuruh orang tua lalu sambil ngambek sama orang tua, dsb; bukan karena kesadarannya untuk mengerjakan PR tersebut), pasti anak tersebut akan merasa pekerjaannya (mengerjakan PR) sia-sia, karena PR tidak jadi dikumpulkan.
Padahal, sebenarnya tidak sia-sia. Karena, dengan mengerjakan PR dengan sungguh-sungguh, anak itu menjadi lebih pintar. Tidak peduli dikumpulkan atau tidak PRnya, anak itu menjadi lebih pintar karena ia berlatih/mengulang pelajaran sekolah di rumah (dengan mengerjakan PR).
Lihatlah . . . tidak ada yang sia-sia.
Dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan, lakukan dengan niat baik dan bersyukurlah! Dengan demikian, kita akan menyadari bahwa ada dampak baik yang kita hasilkan dari pekerjaan yang kita lakukan . . . sehingga pasti tidak ada satupun pekerjaan yang sia-sia.
Selamat melanjutkan aktivitas!
Tuhan memberkati.
Jika kamu rendah hati, tak ada satupun yang dapat mengusikmu; baik itu pujian maupun makian, sebab kamu tahu siapa dirimu sebenarnya.
Showing posts with label Work-Life Balance. Show all posts
Showing posts with label Work-Life Balance. Show all posts
Wednesday, August 3, 2011
Tuesday, May 31, 2011
2 menjadi 1
Kalau dari judulnya, menurut Anda, apa yang akan saya tulis?
Bukan . . . bukan traffic . . karena kalau traffic itu 3 in 1 he he . . .
Tulisan saya kali ini akan bercerita soal kehidupan pernikahan. Dua insan menjadi satu . . .
Pernahkah Anda berpikir mengapa ada istilah 2 menjadi 1 dalam pernikahan?
Kalau mengacu pada landasan agama yang saya anut, ada dasarnya . . .
Matius 19:5-6 mengatakan demikian,
"... Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Jika direnungkan dan ditafsirkan, kalimat tersebut memiliki makna yang sangat dalam.
Dan, saya juga mendapatkan beberapa input baru mengenai arti kalimat tersebut dari seorang hamba Tuhan dalam sebuah forum yang saya hadiri. Saya merasa perlu untuk membagikannya kepada Anda . . .
Pernahkah Anda memikirkan, mengapa ayat tersebut berbunyi demikian?
Yuk . . . kita buka satu persatu . . .
Dalam ayat tersebut dikatakan, "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya . . ."
Mengapa laki-laki yang meninggalkan ayah dan ibunya? Mengapa tidak dikatakan juga perempuan yang meninggalkan ayah dan ibunya?
Dalam sebuah pernikahan, laki-laki adalah seorang pemimpin. Maka ia harus "meninggalkan" ayah dan ibunya untuk dapat fokus memimpin keluarganya . . .
Dan, kata-kata "ayah dan ibunya" tidak murni berarti orang tua, tapi juga masa lalunya . . .
Mengapa juga masa lalunya?
Ketika sudah terikat dalam sebuah pernikahan, inilah urutan prioritas yang diterapkan:
Pertama, Tuhan;
Kedua, Pasangan kita (istri/suami) . . bukan anak, atau yang lainnya.
Seringkali, ketika menikah, kita tidak menanggalkan masa lalu kita sehingga menggeser urutan prioritas.
Contoh sederhana, ketika kita memiliki hobi otomotif. Seringkali, urutan prioritas bergeser, hobi otomotif menjadi nomor 2, setelah Tuhan; atau bahkan nomor 1.
Seringkali para suami mengatakan demikian, "Saya tidak dilayani dengan baik di rumah." atau " Istri saya juga asik sendiri." dan lain-lainnya . . .
Sebelum mengatakan hal tersebut, bercerminlah . . . Apakah Anda (para suami) sudah mengasihi istri Anda, memperlakukannya dengan baik, dan melayaninya dengan baik (menempatkannya dalam urutan nomor 2 prioritas di hidup Anda, setelah Tuhan)? Ingatlah, bahwa Anda adalah pemimpin. Salah satu tugas pemimpin adalah memberi contoh. Jika Anda tidak memberi teladan urutan skala prioritas yang benar, jangan harap istri Anda akan melakukan hal yang benar juga, karena ia mencontoh Anda.
Perlakukanlah istri Anda seperti Ratu, karena Anda adalah Raja.
Lalu kita bergeser ke point selanjutnya, ". . . sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu . . . "
Arti kalimat ini tidak hanya ditafsirkan harafiah sebagai suatu bentuk hubungan badan, namun lebih kepada: terdapat tanggung jawab besar yang diemban disana. Tanggung jawab apa?
Dalam kalimat tersebut disebutkan, ". . . melainkan satu . . .", artinya harus ada kesatuan & peleburan (dalam segala hal) untuk sebuah hubungan pernikahan; termasuk dalam hal keuangan.
Saya memiliki satu kalimat yang maknanya sangat dalam, mungkin Anda tidak menerima/mengerti makna kalimat ini sekarang, tapi suatu saat nanti pasti Anda akan mengerti.
"Jika dalam sebuah pernikahan Anda tidak menginginkan adanya kesatuan (transparansi, menyatu) dalam hal keuangan, berarti Anda sebenarnya tidak menginginkan terikat dalam sebuah pernikahan."
Mengapa? Karena, perselingkuhan (dengan pria/wanita lain, dengan hobi, atau lainnya) membutuhkan budget bukan? . . .
Kalimat terakhir dalam kutipan ayat kitab suci tersebut, "Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Jelas kalimat ini menegaskan, bahwa hubungan pernikahan yang telah dibangun antara 2 pribadi (suami dan istri) adalah ikatan suci yang telah dipersatukan Allah . . . merupakan bagian dari rencana Allah yang sangat kompleks. Tuhan telah merencanakan untuk mempertemukan Anda dan pasangan, lalu mempersatukan Anda berdua. Ingatlah kembali masa-masa pertemuan Anda dengan pasangan Anda, dan rasakanlah betapa dahsyatnya rencana Tuhan. Jika Anda merenungkan kembali masa-masa pertemuan Anda dengan pasangan Anda, yakinlah bahwa itu pasti tak mungkin terjadi tanpa campur tangan Tuhan. Artinya, itu adalah kehendak Tuhan, bagian dari rencana-Nya yang kompleks itu.
Tuhan tidak pernah salah memilihkan tulang rusuk untuk setiap wanita. Demikian, Allah juga tidak pernah salah memberikan penolong kepada setiap pria. Ketika ada perbedaan dalam sebuah hubungan pernikahan, perbedaan itu ada untuk saling melengkapi. Jika Anda menikah dengan orang yang sama persis dengan Anda, lalu jika Anda tidak dapat memasak, berarti pasangan Anda juga tidak dapat memasak. Jika Anda pendiam dan kaku, lalu pasangan Anda juga pendiam dan kaku, maka betapa hambarnya komunikasi. Jadi, syukurilah setiap perbedaan Anda dan pasangan, karena disitulah makna Anda hadir untuk pasangan Anda. Anda hadir untuk melengkapi hidup pasangan Anda. Tuhan tidak pernah salah memilihkan pasangan dalam hidup kita. Rencana-Nya adalah rencana yang indah pada waktu-Nya.
Saya harapkan artikel ini dapat menjadi penguat hubungan pernikahan Anda.
Selamat beraktivitas! Tuhan memberkati.
Bukan . . . bukan traffic . . karena kalau traffic itu 3 in 1 he he . . .
Tulisan saya kali ini akan bercerita soal kehidupan pernikahan. Dua insan menjadi satu . . .
Pernahkah Anda berpikir mengapa ada istilah 2 menjadi 1 dalam pernikahan?
Kalau mengacu pada landasan agama yang saya anut, ada dasarnya . . .
Matius 19:5-6 mengatakan demikian,
"... Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Jika direnungkan dan ditafsirkan, kalimat tersebut memiliki makna yang sangat dalam.
Dan, saya juga mendapatkan beberapa input baru mengenai arti kalimat tersebut dari seorang hamba Tuhan dalam sebuah forum yang saya hadiri. Saya merasa perlu untuk membagikannya kepada Anda . . .
Pernahkah Anda memikirkan, mengapa ayat tersebut berbunyi demikian?
Yuk . . . kita buka satu persatu . . .
Dalam ayat tersebut dikatakan, "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya . . ."
Mengapa laki-laki yang meninggalkan ayah dan ibunya? Mengapa tidak dikatakan juga perempuan yang meninggalkan ayah dan ibunya?
Dalam sebuah pernikahan, laki-laki adalah seorang pemimpin. Maka ia harus "meninggalkan" ayah dan ibunya untuk dapat fokus memimpin keluarganya . . .
Dan, kata-kata "ayah dan ibunya" tidak murni berarti orang tua, tapi juga masa lalunya . . .
Mengapa juga masa lalunya?
Ketika sudah terikat dalam sebuah pernikahan, inilah urutan prioritas yang diterapkan:
Pertama, Tuhan;
Kedua, Pasangan kita (istri/suami) . . bukan anak, atau yang lainnya.
Seringkali, ketika menikah, kita tidak menanggalkan masa lalu kita sehingga menggeser urutan prioritas.
Contoh sederhana, ketika kita memiliki hobi otomotif. Seringkali, urutan prioritas bergeser, hobi otomotif menjadi nomor 2, setelah Tuhan; atau bahkan nomor 1.
Seringkali para suami mengatakan demikian, "Saya tidak dilayani dengan baik di rumah." atau " Istri saya juga asik sendiri." dan lain-lainnya . . .
Sebelum mengatakan hal tersebut, bercerminlah . . . Apakah Anda (para suami) sudah mengasihi istri Anda, memperlakukannya dengan baik, dan melayaninya dengan baik (menempatkannya dalam urutan nomor 2 prioritas di hidup Anda, setelah Tuhan)? Ingatlah, bahwa Anda adalah pemimpin. Salah satu tugas pemimpin adalah memberi contoh. Jika Anda tidak memberi teladan urutan skala prioritas yang benar, jangan harap istri Anda akan melakukan hal yang benar juga, karena ia mencontoh Anda.
Perlakukanlah istri Anda seperti Ratu, karena Anda adalah Raja.
Lalu kita bergeser ke point selanjutnya, ". . . sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu . . . "
Arti kalimat ini tidak hanya ditafsirkan harafiah sebagai suatu bentuk hubungan badan, namun lebih kepada: terdapat tanggung jawab besar yang diemban disana. Tanggung jawab apa?
Dalam kalimat tersebut disebutkan, ". . . melainkan satu . . .", artinya harus ada kesatuan & peleburan (dalam segala hal) untuk sebuah hubungan pernikahan; termasuk dalam hal keuangan.
Saya memiliki satu kalimat yang maknanya sangat dalam, mungkin Anda tidak menerima/mengerti makna kalimat ini sekarang, tapi suatu saat nanti pasti Anda akan mengerti.
"Jika dalam sebuah pernikahan Anda tidak menginginkan adanya kesatuan (transparansi, menyatu) dalam hal keuangan, berarti Anda sebenarnya tidak menginginkan terikat dalam sebuah pernikahan."
Mengapa? Karena, perselingkuhan (dengan pria/wanita lain, dengan hobi, atau lainnya) membutuhkan budget bukan? . . .
Kalimat terakhir dalam kutipan ayat kitab suci tersebut, "Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Jelas kalimat ini menegaskan, bahwa hubungan pernikahan yang telah dibangun antara 2 pribadi (suami dan istri) adalah ikatan suci yang telah dipersatukan Allah . . . merupakan bagian dari rencana Allah yang sangat kompleks. Tuhan telah merencanakan untuk mempertemukan Anda dan pasangan, lalu mempersatukan Anda berdua. Ingatlah kembali masa-masa pertemuan Anda dengan pasangan Anda, dan rasakanlah betapa dahsyatnya rencana Tuhan. Jika Anda merenungkan kembali masa-masa pertemuan Anda dengan pasangan Anda, yakinlah bahwa itu pasti tak mungkin terjadi tanpa campur tangan Tuhan. Artinya, itu adalah kehendak Tuhan, bagian dari rencana-Nya yang kompleks itu.
Tuhan tidak pernah salah memilihkan tulang rusuk untuk setiap wanita. Demikian, Allah juga tidak pernah salah memberikan penolong kepada setiap pria. Ketika ada perbedaan dalam sebuah hubungan pernikahan, perbedaan itu ada untuk saling melengkapi. Jika Anda menikah dengan orang yang sama persis dengan Anda, lalu jika Anda tidak dapat memasak, berarti pasangan Anda juga tidak dapat memasak. Jika Anda pendiam dan kaku, lalu pasangan Anda juga pendiam dan kaku, maka betapa hambarnya komunikasi. Jadi, syukurilah setiap perbedaan Anda dan pasangan, karena disitulah makna Anda hadir untuk pasangan Anda. Anda hadir untuk melengkapi hidup pasangan Anda. Tuhan tidak pernah salah memilihkan pasangan dalam hidup kita. Rencana-Nya adalah rencana yang indah pada waktu-Nya.
Saya harapkan artikel ini dapat menjadi penguat hubungan pernikahan Anda.
Selamat beraktivitas! Tuhan memberkati.
Friday, May 20, 2011
Broken Heart
Mmm . . . ini dia!
Rasanya semua orang pernah jatuh cinta dalam hidupnya. Tentunya, kalau berani jatuh cinta harus berani sakit hati. Itu peribahasa . . . tapi itu benar . . karena kalau tak pernah merasa sakit hati, artinya belum pernah merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Itu sepertinya adalah satu paket dalam salah satu sisi kehidupan.
Ketika sakit hati, lalu hati itu rasanya seperti sampai hancur berkeping-keping . . . sering orang menyebutnya broken heart. Kalau saya lebih senang mengumpamakan sebuah hubungan seperti menjaga sebuah vas bunga kristal. Indah . . tapi harus berhati-hati ketika menyentuhnya dan memasuki kedalaman indahnya . . karena bisa pecah. Bayangkan ketika vas bunga kristal itu sudah pecah, apa yang akan Anda lakukan?
Menurut saya, tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membuatnya kembali seperti sedia kala.
Mengapa?
Jika Anda mencoba menyatukannya kembali, dengan lem, celotape, atau apapun . . .
Anda mencoba menyatukan setiap kepingannya . . dengan lem terbaik sekalipun . . .
Semua tidak akan pernah bisa kembali seperti semula bukan?
Pasti tetap akan ada kepingan kecil yang hilang / jatuh / tertinggal / tidak bisa disatukan . .
Lem itu pun akan meninggalkan bekas pada setiap sambungannya . . .
Vas bunga kristal itu tak akan bisa kembali seperti dulu.
Jadi . . harus bagaimana?
Saya hanya punya 2 saran untuk Anda . . .
1. Jagalah vas bunga kristal itu jangan sampai jatuh, apalagi pecah . . dengan cara komunikasi, keterbukaan, kejujuran, dan saling percaya. Ikatan yang kuat menghindarkan kehancuran. Komunikasi adalah satu-satunya cara membangun sebuah ikatan yang kuat. Komunikasi untuk membangun sebuah ikatan yang kuat hanya dengan keterbukaan dan kejujuran. Setelah itu, selalu positive thinking . . saling percaya.
2. Jika sudah terlanjur pecah . . .
Hmm . . . artinya broken heart itu sudah terjadi. Peribahasa ini yang saya dapat bagikan dengan Anda . .
Dan, hati-hati jangan pecah lagi . . . :)
At least, itu yang bisa saya sharingkan . . semoga dapat membantu Anda dengan hati Anda . .
Tuhan memberkati.
Rasanya semua orang pernah jatuh cinta dalam hidupnya. Tentunya, kalau berani jatuh cinta harus berani sakit hati. Itu peribahasa . . . tapi itu benar . . karena kalau tak pernah merasa sakit hati, artinya belum pernah merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Itu sepertinya adalah satu paket dalam salah satu sisi kehidupan.
Ketika sakit hati, lalu hati itu rasanya seperti sampai hancur berkeping-keping . . . sering orang menyebutnya broken heart. Kalau saya lebih senang mengumpamakan sebuah hubungan seperti menjaga sebuah vas bunga kristal. Indah . . tapi harus berhati-hati ketika menyentuhnya dan memasuki kedalaman indahnya . . karena bisa pecah. Bayangkan ketika vas bunga kristal itu sudah pecah, apa yang akan Anda lakukan?
Menurut saya, tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membuatnya kembali seperti sedia kala.
Mengapa?
Jika Anda mencoba menyatukannya kembali, dengan lem, celotape, atau apapun . . .
Anda mencoba menyatukan setiap kepingannya . . dengan lem terbaik sekalipun . . .
Semua tidak akan pernah bisa kembali seperti semula bukan?
Pasti tetap akan ada kepingan kecil yang hilang / jatuh / tertinggal / tidak bisa disatukan . .
Lem itu pun akan meninggalkan bekas pada setiap sambungannya . . .
Vas bunga kristal itu tak akan bisa kembali seperti dulu.
Jadi . . harus bagaimana?
Saya hanya punya 2 saran untuk Anda . . .
1. Jagalah vas bunga kristal itu jangan sampai jatuh, apalagi pecah . . dengan cara komunikasi, keterbukaan, kejujuran, dan saling percaya. Ikatan yang kuat menghindarkan kehancuran. Komunikasi adalah satu-satunya cara membangun sebuah ikatan yang kuat. Komunikasi untuk membangun sebuah ikatan yang kuat hanya dengan keterbukaan dan kejujuran. Setelah itu, selalu positive thinking . . saling percaya.
2. Jika sudah terlanjur pecah . . .
Hmm . . . artinya broken heart itu sudah terjadi. Peribahasa ini yang saya dapat bagikan dengan Anda . .
"The best way to heal a broken heart is to FORGIVE and FORGET."
Beri ruang bersalah untuk Anda dan pasangan Anda karena sudah lalai menjaga vas bunga kristal itu. Karena bagaimanapun, sekecil apapun, pasti Anda dan pasangan punya andil dalam pecahnya vas bunga tersebut. Leburkanlah vas bunga kristal yang pecah itu. Maafkanlah . . . lalu lupakanlah . . bangunlah hubungan baru dengan pasangan Anda.Dan, hati-hati jangan pecah lagi . . . :)
At least, itu yang bisa saya sharingkan . . semoga dapat membantu Anda dengan hati Anda . .
Tuhan memberkati.
Monday, May 9, 2011
Seperti Roda . . .
Kita pasti sering mendengar bahwa hidup itu seperti roda, kadang diatas, kadang dibawah.
Saat ini, yang saya tulis bukan soal roda kehidupannya, tapi lebih pada kala kita berada dibawah . . .
Apa yang kita rasakan ketika kita berada dibawah, jatuh, dan terinjak? Pasti sakit.
Tentunya . . . karena kita manusia normal. Tapi pernahkah kita menyadari kenapa kita harus ada dalam masa-masa sakit tersebut? Kenapa kita harus melewatinya?
Sepanjang yang saya tahu dalam kehidupan saya, rasa sakit itu pasti membawa kita pada "sesuatu".
Seperti besi, ketika ia semakin ditempa, ia akan semakin indah, semakin cantik, semakin elok.
Sama halnya seperti kehidupan kita. Mudah saja, tanpa ada rasa sakit itu, kita tidak akan pernah tahu apa rasanya senang bukan? Bagaimana kita tahu sesuatu itu nikmat, jika kita tidak pernah merasakan sulit?
Orang yang tumbuh dalam kesenangan, tidak mengetahui kadar bencana dan derita
dan susah untuk mengasihi orang yang tertimpa oleh bencana dan derita.
Buat saya, rasa sakit itu ujian. Bukan Tuhan . . . karena Tuhan tidak pernah mencobai manusia. Tapi itu adalah siklus hidup yang harus kita lalui. Jika kita kembali ke masa penciptaan manusia, Hawa telah memakan buah terlarang sehingga ia jadi tahu yang baik dan yang buruk. Sebelumnya, hidup Adam dan Hawa telah sangat nikmat di Taman Eden. Jadi, kembali lagi, bahwa rasa sakit itu adalah bagian dari siklus kehidupan; bagian dari yang baik dan yang buruk.
{Bdk. Yakobus 1:13-15}
Karena rasa sakit adalah sebuah siklus hidup, buat saya itu adalah bagian dari mendewasakan seseorang. Kenapa rasa sakit itu ujian? Ujian bagaimana kita dapat melaluinya dengan apapun suasana hati kita hingga menjadikan kita pribadi yang kuat.
Apa arti sesungguhnya kalimat "Ujian bagaimana kita dapat melaluinya dengan apapun suasana hati kita hingga menjadikan kita pribadi yang kuat"?
Satu jawaban singkat untuk pertanyaan terakhir saya tersebut adalah melalui peribahasa ini:
"Orang yang lemah akan punya 1000 alasan untuk menyudahi,
tapi orang kuat akan selalu mencari cara untuk bisa bertahan, sekecil apapun harapannya."
Selamat berkarya!
Tuhan memberkati.
Saat ini, yang saya tulis bukan soal roda kehidupannya, tapi lebih pada kala kita berada dibawah . . .
Apa yang kita rasakan ketika kita berada dibawah, jatuh, dan terinjak? Pasti sakit.
Tentunya . . . karena kita manusia normal. Tapi pernahkah kita menyadari kenapa kita harus ada dalam masa-masa sakit tersebut? Kenapa kita harus melewatinya?
Sepanjang yang saya tahu dalam kehidupan saya, rasa sakit itu pasti membawa kita pada "sesuatu".
Seperti besi, ketika ia semakin ditempa, ia akan semakin indah, semakin cantik, semakin elok.
Sama halnya seperti kehidupan kita. Mudah saja, tanpa ada rasa sakit itu, kita tidak akan pernah tahu apa rasanya senang bukan? Bagaimana kita tahu sesuatu itu nikmat, jika kita tidak pernah merasakan sulit?
Orang yang tumbuh dalam kesenangan, tidak mengetahui kadar bencana dan derita
dan susah untuk mengasihi orang yang tertimpa oleh bencana dan derita.
Buat saya, rasa sakit itu ujian. Bukan Tuhan . . . karena Tuhan tidak pernah mencobai manusia. Tapi itu adalah siklus hidup yang harus kita lalui. Jika kita kembali ke masa penciptaan manusia, Hawa telah memakan buah terlarang sehingga ia jadi tahu yang baik dan yang buruk. Sebelumnya, hidup Adam dan Hawa telah sangat nikmat di Taman Eden. Jadi, kembali lagi, bahwa rasa sakit itu adalah bagian dari siklus kehidupan; bagian dari yang baik dan yang buruk.
{Bdk. Yakobus 1:13-15}
Karena rasa sakit adalah sebuah siklus hidup, buat saya itu adalah bagian dari mendewasakan seseorang. Kenapa rasa sakit itu ujian? Ujian bagaimana kita dapat melaluinya dengan apapun suasana hati kita hingga menjadikan kita pribadi yang kuat.
Apa arti sesungguhnya kalimat "Ujian bagaimana kita dapat melaluinya dengan apapun suasana hati kita hingga menjadikan kita pribadi yang kuat"?
Satu jawaban singkat untuk pertanyaan terakhir saya tersebut adalah melalui peribahasa ini:
"Orang yang lemah akan punya 1000 alasan untuk menyudahi,
tapi orang kuat akan selalu mencari cara untuk bisa bertahan, sekecil apapun harapannya."
Selamat berkarya!
Tuhan memberkati.
Thursday, May 5, 2011
KEKAYAAN
Apa sich "Kekayaan" itu?
Sering kita menilai seseorang itu kaya atau miskin dari pekerjaannya, kemewahannya, gaya berpakaiannya, kehidupan sosialnya, hobinya, tempat tujuannya berlibur, dan sebagainya. Tapi pernahkah Anda betul-betul menyadari apa sebenarnya yang dapat membuat seseorang betul-betul disebut "KAYA"?
Mengutip sebuah peribahasa,
Seseorang belum bisa dikatakan KAYA sampai ia memiliki sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang.
Apa misalnya?
- Suami yang family-man
- Istri yang cakap dan setia
- Kehidupan keluarga yang harmonis
- Anak yang perilaku dan prestasinya membanggakan
- Harga diri
- dan lainnya yang tidak dapat dibeli dengan uang . . .
Orang mungkin bisa menilai Anda kaya atau tidak kaya . . namun percayalah! selama Anda bahagia dengan hidup Anda, Anda telah membuat diri Anda selangkah lebih kaya. Dan, bahagia itu adalah pilihan, bukan takdir.
Salam bahagia!
Tuhan memberkati.
Sering kita menilai seseorang itu kaya atau miskin dari pekerjaannya, kemewahannya, gaya berpakaiannya, kehidupan sosialnya, hobinya, tempat tujuannya berlibur, dan sebagainya. Tapi pernahkah Anda betul-betul menyadari apa sebenarnya yang dapat membuat seseorang betul-betul disebut "KAYA"?
Mengutip sebuah peribahasa,
Seseorang belum bisa dikatakan KAYA sampai ia memiliki sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang.
Apa misalnya?
- Suami yang family-man
- Istri yang cakap dan setia
- Kehidupan keluarga yang harmonis
- Anak yang perilaku dan prestasinya membanggakan
- Harga diri
- dan lainnya yang tidak dapat dibeli dengan uang . . .
Orang mungkin bisa menilai Anda kaya atau tidak kaya . . namun percayalah! selama Anda bahagia dengan hidup Anda, Anda telah membuat diri Anda selangkah lebih kaya. Dan, bahagia itu adalah pilihan, bukan takdir.
Salam bahagia!
Tuhan memberkati.
Menjadi Sukses
Saat saya menghadiri sebuah forum di kantor, salah satu sesi dalam forum tersebut adalah menghadirkan Andri Wongso; salah satu dari beberapa motivator terbaik Indonesia. Forum yang saya hadiri ini memang dirancang periodik dan selalu menghadirkan pembicara berkaliber di salah satu sesinya; persis sebelum sesi sang CEO/Direktur Utama.
Satu hal yang saya catat dan sangat menarik serta inspiratif dalam sesi Andri Wongso tersebut adalah . . .
"Gagal, bangkit lagi!
Kalah, belajar lagi!
Itu rahasia sukses klasik, tapi tetap berlaku sampai kapanpun."
Betul. Saya sangat setuju dengan kata-kata beliau tersebut, walaupun sungguh tidak mudah mempraktekkannya.
And you know what? As long as you don't give up in life, everything else will work out naturally.
Selamat berkarya!
Tuhan memberkati.
Satu hal yang saya catat dan sangat menarik serta inspiratif dalam sesi Andri Wongso tersebut adalah . . .
"Gagal, bangkit lagi!
Kalah, belajar lagi!
Itu rahasia sukses klasik, tapi tetap berlaku sampai kapanpun."
Betul. Saya sangat setuju dengan kata-kata beliau tersebut, walaupun sungguh tidak mudah mempraktekkannya.
And you know what? As long as you don't give up in life, everything else will work out naturally.
Selamat berkarya!
Tuhan memberkati.
Tuesday, May 3, 2011
Selamat pagi, apa kabar staff Anda pagi ini?
Dalam setiap hubungan atasan dan bawahan, tak bisa dipungkiri suatu saat akan muncul konflik. Itu adalah hal yang wajar mengingat 2 atau lebih manusia yang berinteraksi tidak selalu memiliki keinginan yang sama. Suami - istri sekalipun,, bahkan anak kembar sekalipun.
Karena itu, dalam setiap konflik yang terjadi, biasanya saya selalu mengingat peribahasa ini:
"Untuk menangani dirimu, gunakan kepalamu . . tapi untuk menangani orang lain, gunakan hatimu."
Selamat beraktivitas!
Tuhan memberkati.
Karena itu, dalam setiap konflik yang terjadi, biasanya saya selalu mengingat peribahasa ini:
"Untuk menangani dirimu, gunakan kepalamu . . tapi untuk menangani orang lain, gunakan hatimu."
Selamat beraktivitas!
Tuhan memberkati.
Subscribe to:
Posts (Atom)